Pernahkah Anda bertanya,
“Kenapa akhir-akhir ini tubuh anda sering memberikan berbagai keluhan?” Hari ini sakit kepala.
Besok dada terasa tidak nyaman.
Kadang jantung berdebar.
Lambung terasa bermasalah.
Badan mudah lelah.
Sulit tidur.
Otot terasa tegang.
Bahkan muncul rasa cemas yang sulit dijelaskan. Lalu kita mulai mencari cara untuk menghilangkan satu per satu keluhan tersebut. Tetapi ada satu hal penting yang sering terlupakan: Tubuh manusia punya LIMIT dalam menanggung beban. Bayangkan seseorang membawa sebuah batu besar. Di atas batu itu tertulis: OVERTHINKING.
KEKHAWATIRAN.
KONFLIK.
TRAUMA.
MASALAH RELATIONSHIP.
BEBAN PEKERJAAN.
RASA BERSALAH.
KEGAGALAN.
EKSPEKTASI.
PENGALAMAN NEGATIF.
Satu masalah mungkin masih mampu kita tanggung. Dua masalah mungkin masih bisa kita jalani. Tetapi ketika beban terus bertambah, sementara kita tidak pernah benar-benar melepaskannya... tubuh akhirnya mencapai batas kemampuannya. Dan ketika beban melebihi kemampuan tubuh untuk beradaptasi, berbagai respons tubuh bisa muncul.
Di sinilah seseorang sering berkata: “Dok, saya sebenarnya tidak sedang memikirkan apa-apa… tapi kok tubuh saya seperti ini?” Karena tubuh tidak hanya merespons apa yang sedang terjadi hari ini. Respons tubuh juga dapat dipengaruhi oleh bagaimana otak menilai situasi, pengalaman sebelumnya, pola pikir, stres, emosi, serta kondisi lingkungan. Jadi terkadang yang kita lihat hanyalah keluhannya. Padahal keluhan bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan. Namun, tentu saja, tidak semua keluhan fisik boleh langsung dianggap akibat stres atau kecemasan.
Keluhan yang baru, berat, menetap, atau mengkhawatirkan tetap perlu dievaluasi secara medis untuk memastikan tidak ada penyebab fisik yang membutuhkan penanganan. Lalu apa yang harus dilakukan? Bukan hanya bertanya: “Bagaimana cara menghilangkan keluhannya?” Tetapi mulai bertanya: “Apa yang sedang membuat tubuh saya terus berada di bawah beban?” Karena kalau sumber bebannya terus dipertahankan, kita mungkin hanya sibuk memadamkan gejalanya satu per satu. Maka proses perubahan bukan sekadar melawan sensasi tubuh. Tetapi belajar: memahami beban, memahami respons diri, mengelola pikiran dan emosi, kemudian melepaskan beban yang memang bisa dilepaskan.
Ketika beban berkurang, tubuh mendapatkan kesempatan untuk kembali beradaptasi dengan lebih baik. Jadi, jangan hanya bertanya: “Bagaimana supaya keluhan ini hilang?” Cobalah bertanya: “Beban apa yang selama ini saya bawa?” Karena terkadang... yang perlu kita ubah bukan tubuhnya, tetapi cara kita menghadapi beban yang terus-menerus diberikan kepada tubuh. Pahami bebannya.
Kelola responsnya.
Lepaskan yang perlu dilepaskan.
Dan belajar menjalani hidup dengan lebih ringan. — Dokter Dilan | Upgrading Mental Power (UMP)